June 13, 2005

menara

(theme songs: I need some fucking quietness...!!!)

MENARA DAN ARTI MENUNGGU

Suatu hari, seperti biasa, Aku selalu menungguNya di tempat istimewa kita.
Untuk menungguNya datang menghampiriku.
Tapi ternyata Dia tidak kunjung datang, sehingga aku mencoba mengunjungiNya ke tempat Dia biasa ada.
Ternyata Dia ada.
Dengan semen dan batu bata di tanganNya.
Seperti biasa juga, kupasang senyum manisku untukNya.


"Kamu sedang apa?"
Dia menoleh padaku, tapi senyumNya yang mengagumkan itu seperti hilang.
"Aku sedang membuat tembok."
"Untuk apa? Kamu kan bukan tukang bangunan?" Aku berusaha melucu, tapi tidak berhasil.
"Kamu tidak perlu tahu. Ini untukku. Aku sedang membangun tembok untuk menara bentengKu. Akan Kucapai langit disana."
"Wah itu bagus sekali..!Apa Aku bisa bantu?"
"Tidak. Tidak usah. Maukah Kamu tolong pergi sebentar? Di sini berbahaya."
Meskipun Aku kaget, Aku tetap tersenyum dan menurut.
"Baiklah, tapi hanya sebentar saja ya. Nanti Aku akan kesini lagi. Mungkin Kamu nanti haus dan capek, Aku akan bawakan minum untukMu..."
Lalu Aku pergi meninggalkanNya sendirian dengan semen dan batu-batanya.

Beberapa waktu kemudian, Aku mulai merasa kesepian.
Aku penasaran, untuk apa Dia membangun tembok itu?
"Halo..sepertinya sudah lama tidak ketemu..."
Kuhampiri Ia di tempatNya, nampak tembok yang Dia bangun sudah lebih tinggi. Kira-kira 2 meter.
"Ada apa kamu kesini? Kan sudah Kuperingati Kamu, bahwa disini berbahaya..!!!!"
Dia tampak marah hanya dengan kehadiranKu.
"Aku hanya ingin tahu apa Kamu perlu bantuan..."
"Sudah Kubilang, Aku tidak perlu bantuan."
"Tapi mungkin kamu lapar dan haus. Kamu belum istirahat."
"Tidak, Aku tidak lapar maupun haus."
Lalu di pikiranKu terlintas bahwa mungkin sekarang Ia benar-benar sibuk.
HatiKu agak sedih. Tapi tak apa.

"Apa Aku harus mengalah?"
"Mengalah kenapa?" Dia balik bertanya.
" Kamu ingin membangun tembok itu kan? Mungkin Aku tidak perlu mengunjungiMu lagi." Air mata mulai menetes di pipiKu.
Dia tertegun.
Tapi Dia tidak menghapus airmata yang terus turun di pipiKu itu.
"Aku tidak mengira bahwa Kamu akan sedih."
"Tapi nyatanya Aku sedih."
"Aku selalu berpikir bahwa seharusnya Aku bertemu denganmu dari dulu. Agar Aku tidak mengecewakanMu seperti ini.”
"Tak apa. Kalau Aku harus menunggu semuanya berjalan normal, akan Kujalani."
"Tapi Aku tidak suka melihatmu menunggu tanpa akhir yang jelas..."
"Kamu adalah akhir yang jelas dari peristiwa menunggu-Ku. Tak apa."
Lalu Dia mulai minta maaf. Dan anehnya semua itu terdengar seperti mantra-mantra yang menghipnotis masuk ke dalam otakKu.
"Aku berjanji, ketika menara ini sudah jadi, Aku akan membuat tangga untukMu. Lalu Aku akan turun dan membawaMu ke puncak menara, melihat langit yang biru."
"Aku akan menunggu, Aku ingin lihat langit yang biru bersamaMu..."
"Kamu harus pergi sebentar."
"Tak apa. Aku akan pergi dan sabar menunggumu..."
Lalu Dia memberiku pelukan, dan terus memandangKu sampai Aku tak bisa melihat Dia lagi.

Waktu demi waktu berlalu.
Bahkan Aku sendiri sudah tidak bisa menghitung berapa hari yang telah terlewati.
Setiap saat Aku hanya berdiri menunggu di tempat istimewa kami.
Dan Aku juga selalu melihatNya dari kejauhan.
Dia memang sibuk sekali, dan tidak bisa diganggu.
Nampaknya menara yang Ia bangun semakin tinggi dan temboknya berlapis-lapis.
Menara bata itu sangat tinggi, seperti mau mencakar langit.
Dan dari kejauhan, Aku hanya bisa melihat Dia sedang bersusah-payah membuat menara itu setingkat semi setingkat.
Dia tampak jauh sekali dari sini.

Aku ingin sekali membantunya.
Tapi setiap kupanggil namanya dari kejauhan, Ia tidak menoleh.
Ketika Ia kebetulan melihatku, Ia selalu berpaling.
Senyumnya yang mengagumkan itu tak pernah lagi terpasang di wajahnya.


Ini yang membuat Aku agak ketakutan.
Sebenarnya...untuk apa Dia membangun menara itu?
Apa menara itu Dia buat untuk menjauhkanKu denganNya?
Aku sudah sangat ingin menghampiriNya.
Tapi aku tidak tahu kapankah saat yang tepat.
Apa Dia benar-benar akan turun menjemputKu ketika Dia sudah ada di puncak menara?

Dan sampai sekarang Aku hanya bisa menunggu di tempat yang sama tiap hari.
Sambil melihatNya dari kejauhan...
MenungguNya pulang...

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...