March 12, 2008

Farewell

(Theme songs: Nouvelle Vague - Love Will Tear Us Apart)

Kalau boleh, saya mau cerita fakta.
Kurang lebih 515 hari saya bersamanya.
Akhirnya berpisah juga.

Seperti yang kita duga,
gereja tidak pernah bisa jadi mesjid. Dan mesjid tidak pernah bisa jadi gereja.
Indonesia memang bhinneka tunggal ika, tapi toh akhirnya kita terpatok juga.
Karena ternyata di balik punggung pacar kita ada bapak ibunya.
Begitupun kita, di balik punggung kita ada bapak dan ibu kita.
Ada keluarga.
Ada komunitas.
Ada sistem.

Menjalin hubungan tidak bisa hanya dunia milik berdua.
Ada dunia yang lebih rumit dari itu.
Ada suatu sistem yang berkaitan dengan status sosial yang memusingkan.

Memang, semua ini salah saya.
Main api maka terbakarlah.
Oke, saya memang gosong sudah. Tapi saya sudah menyerah.

Kepala saya tidak keras lagi.
Saya capek sembunyi-sembunyi.
Banyak hal-hal kecil yang teman saya dan pacarnya biasa mereka lakukan membuat saya iri.
Hal-hal kecil yang normal.
Yang baru saya sadari, saya tidak melakukannya.
Hubungan ini sedikit membuat saya jadi sakit jiwa.
Karena banyak yang hal yang sudah dilakukan, tapi saya gak tau ujungnya gimana.
Meskipun cari-cari alasan yang lain, pasti ujungnya kesitu-situ juga.

Saya tidak menyalahkan kaderisasi yang sedikit banyak sudah mengambil waktu dia untuk saya.
Saya memang makin lama makin ga ngerti dunianya,
atau waktu yang semakin lama makin sempit untuk kami berdua,
tapi ini kayaknya udah ditakdirkan, supaya saya sadar sendiri, dan memutuskan mundur saja.
Dan alasan secara garis besarnya, kesitu-situ juga.

Saya tidak menyesal.
Saya tidak pernah menyesali apa yang sudah saya lakukan.
Toh ini pasti udah ditakdirkan Allah juga, dan saya sangat berterimakasih sudah dikirimi orang seperti dia, yang membuat

saya yang menye-menye kekanak-kanakkan ini menjadi lebih sabar, dewasa, dan berpikir logis.

Dia sudah membuat saya merasakan kasih sayang yang luar biasa.
Cinta yang terasa luar biasa karena kami sangat rapi menyembunyikannya.
Kalau misalnya sekarang padam, itu bukan salah siapa-siapa, karena memang sudah waktunya.

Memang sudah waktunya kami untuk mendapatkan hidup yang normal.
Apel malam minggu yang normal.
Telepon yang normal.
Lebaran sama-sama.
Natalan sama-sama.
Dengan pacar yang direstui orang tua.


Maka, izinkanlah saya, untuk memberi fakta,
bahwa saya masih hancur.
Setegar-tegarnya saya, saya pasti hancur lebur.

Tapi seperti kata dia,
bahwa tidak ada yang bisa dilakukan selain ikhlas.
Ya, ikhlas.


Kamu,
terimakasih telah menemani saya dalam bonus stage paling indah dalam hidup saya.
Sekarang saya mau kembali ke normal stage dan berusaha kembali dari nol.
Kamu juga harus begitu.

..
..
..
..
..
.
.
.







Selamat jalan.
Hati-hati.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...